Ketika Fakta Beradu Dengan Teori

Sekilas Model-Model Pertumbuhan Ekonomi

           Sebagai seorang mahasiswi ekonomi, tentu kita tidak akan asing dengan nama-nama Adam Smith, Davis Ricardo, Arthur Lewis, dan lain sebagainya. Kali ini saya mem-posting matei mengenai model-model pertumbuhan ekonomi, dimana para ekonom klasik dan modern saling mengemukakakn pendapat mereka mengenai model-model atau ukuran-ukuran bahwa suatu negara dikatakan telah tumbuh. Materi ini biasanya akan muncul bagi teman-teman yang berada pada jurusan Ilmu Ekonomi. Sayajuga menambahkan foto-foto dari para ekonom tersebut, dengan tujuan agar kita sebagai seorang mahasiswa/i ekonomi mengnal para ekonom sebelmnya, karena ada ungkapan tidak kenal maka tidak sayang. Walaupun hanya foto, semoga kita semua juga dapat memahami mengapa beliau-beliau menggunakan cara-cara tersebut dalam merumuskan penemuannya. Indahnya berbagi.🙂

1    Model Pertumbuhan Ekonomi Adam Smith

Sebagai peneliti yang telah dikenal dalam perekonomian dunia, Adam Smith juga menaruh perhatiannya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776), beliau mengemukakan tentang proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistematis. Agar inti dari proses pertumbuhan ekonomi mudah dipahami, terdapat dua apek utama dalam pertumbuhan ekonomi menurut Adam Smith, yaitu :

  1. Pertumbuhan output total

Unsur pokok dari sistem produksi suatu negara menurut Smith ada tiga yaitu :

  1. Sumberdaya alam yang tersedia (atau faktor roduksi “tanah”). Menurut beliau, sumberdaya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumberdaya alam yang tersedia merupakan “batas maksimum” bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya, jika sumberdaya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output tersebut akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan secara penuh.
  2. Sumberdaya insani (atau jumlah penduduk). Unsur ini dikatakan memiliki peranan yang pasif dalam proses pertumbuhan output. Maksudnya, jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan akan tenaga kerja dari suatu masyarakat.
  3. Stok barang modal yang ada. Stok modal, menurut Adam Smith, merupakan unsur produksi yang secara aktif menentukan tingkat output. Peranannya sangat sentral dalam proses pertumbuhan output. Jumlah dan tingkat pertumbuhan output tergantung pada laju pertumbuhan stok modal. Pengaruh stok modal terhadap tingkat output total bisa secara langsung dan tak langsung. Pengaruh langsung ini maksudnya adalah karena pertambahan modal (sebagai input) akan langsung meningkatkan output. Sedangkan pengaruh tak langsung maksudnya adalah peningkatan produktivitas per kapita yang dimungkinkan oleh karena adanya spesialisasi dan pembagian kerja yang lebih tinggi. Semakin besar stok modal, menurut Smith, semakin besar kemungkinan dilakukannya spesialisasi dan pembagian kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas per kapita.
  4. Pertumbuhan Penduduk

Menurut Adam Smith, jumlah penduduk akan meningkat jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsistem yaitu tingkat upah yang pas-pasan untuk hidup. Jika tingkat upah diatas tingkat subsisten maka orang-orang akan kawin pada umur muda, tingkat kematian menurun, dan jumlah kelahiran meningkat. Sebaliknya, jika tingkat upah yang berlaku lebih rendah dari tingkat upah subsisten, maka jumlah penduduk akan menurun.

Tingkat upah yang berlaku, menurut Smith, ditentukan oleh tarik menarik antara kekuatan permintaan dan penawaran tenaga kerja. Tingkat upah yang tinggi akan meningkat jika permintaan akan tenaga kerja (DL) tumbuh lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja (SL). Sementara itu permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh stok modal dan tingkat output masyarakat. Oleh karena itu, laju pertumbuhan permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh laju pertumbuhan stok modal (akumulasi modal) dan laju pertumbuhan output.

Namun demikian, ada beberapa kritik terhadap teori Adam Smith, yaitu :

  1. Pembagian Kelas Dalam Masyarakat. Teori Smith ini didasarkan pada lingkungan sosial ekonomi yang berlaku di Inggris dan beberapa negara Eropa. Teori ini mengasumsikan adanya pembagian masyarakat secara tegas yaitu antara golongan kapitalis (termasuk tuan tanah) dan para buruh. Padahal dalam kenyataannya, seringkali kelas menengah mempunyai peran yang sagat penting dalam masyarakat modern. Dengan kata lain, teori Smith mengabaikan peran kelas menengah dalam mendorong pembangunan ekonomi.
  2. Alasan menabung. Menurut Smith, orang yang dapat menabung adalah para kapitalis, tuan tanah, dan lintah darat. Namun ini adalah alasan yang tidak adil, sebab tidak terpikir olehnya bahwa sumber utama tabungan di dalam masyarakat yang maju adalah para penerima pendapatan dan bukan kapitalis serta tuan tanah.
  3. Asumsi persaingan sempurna. Asumsi utama teori Smith, adalah persaingan sempurna. Kebijakan pasar bebas dari persaingan sempurna ini tidak ditemukan di dalam perekonomian manapun. Sejumlah kendala atau batasan malahan dikenakan pada sektor perorangan (misalnya larangan monopoli) dan perdagangan internasional (misalnya adanya proteksi) pada setiap negara di dunia.
  4. Pengabaian peranan entrepreneur. Smith agak mengabaikan peranan entrepreneur dalam pembangunan. Padahal para entrepreneur ini mempunyai peranan yang sentral dalam pembangunan. Mereka inilah yang menciptakan inovasi dan pada akhirnya menghasilkan akumulasi modal.
  5. Asumsi Stasioner. Menurut Smith, hasil akhir suatu perekonomian kapitalis adalah keadaan stasioner. Ini berarti bahwa perubahan hanya terjadi di sekitar titik keseimbangan tersebut. Padahal dalam kenyataannya proses pembangunan itu sering kali terjadi teratur dan tidak seragam. Jadi, asumsi ini tidak realistis.

2    Model Pertumbuhan Ekonomi David Ricardo

Garis besar proses pertumbuhan dan kesimpulan-kesimpulan dari Ricardo tidak jauh berbeda dengan teori Adam Smith. Tema dari proses pertumbuhan ekonomi masih pada perpacuan antara laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan output. Selain itu Ricardo juga menganggap bahwa jumlah faktor produksi tanah (sumberdaya alam) tidak bisa bertambah, sehingga akhirnya menjadi faktor pembatas dalam proses pertumbuhan suatu masyarakat.

Teori Ricardo ini diungkapkan pertama kali dalam The Principles of Political Economy and Taxation yang diterbitkan pada tahun 1917. Sebelum membicarakan aspek-aspek pertumbuhan dari Ricardo terlebih dahulu kita coba untuk mengenali ciri-ciri perekonomian Ricardo sebagai berikut :

  1. Jumlah tanah terbatas
  2. Tenaga kerja (penduduk) meningkat atau menurun tergantung pada apakah tingkat upah diatas atau dibawah tingkat upah minimal (tingkat upah alamiah = natural wage)
  3. Akumulasi modal terjadi bila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik modal berada diatas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.
  4. Kemajuan teknologi sepanjang waktu
  5. Sektor pertanian dominan.

Dengan terbatasnya luas tanah maka pertumbuhan penduduk (tenaga kerja) akan menurunkan produk marjinal (marginal product) yang kita kenal dengan istilah The law of diminishing returns.  Selama buruh yang dipekerjakan pada tanah tersebut bisa menerima tingkat upah diatas tingkat upah alamiah, maka penduduk (tenaga kerja) akan terus bertambah, dan hal ini akan menurunkan lagi produk marjinal tenaga kerja dan pada gilirannya akan menekankan tingkat upah ke bawah.

Proses yang dijelaskan diatas akan berhenti jika tingkat upah turun sampai tingkat upah alamiah. Jika tingkat upah turun sampai tingkat upah alamiah, maka jumlah penduduk (tenaga kerja) menurun. Dan tingkat upah akan naik lagi sampai tingkat upah alamiah. Pada posisi ini jumlah penduduk konstan. Jadi, dari segi faktor produksi tanah dan tenaga kerja, ada suatu kekuatan dinamis yang selalu menarik perekonomian kearah tingkat upah minimum, yaitu bekerjanya the law of diminishing returns.

Menurut Ricardo, peranan akumulasi modal dan kemajuan teknologi adalah cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja, artinya, bisa memperlambat bekerjanya the law of diminishing returns, yang pada gilirannya akan memperlambat pula penurunan tingkat hidup ke arah tingkat hidup minimal. Inilah inti dari proses pertumbuhan ekonomi (kapitalis) menurut Ricardo. Proses ini tidak lain adalah proses tarik-menarik antara dua kekuatan dinamis yaitu antara the law of diminishing returns dan kemajuan teknologi.

Sayangnya, proses tarik-menarik tersebut akhirnya dimenangkan oleh the law of diminishing returns, demikian Ricardo. Keterbatasan faktor produksi tanah (sumber daya alam) akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara hanya bisa tumbuh sampai batas yang dimungkinkan oleh sumber daya alam.

Apabila semua potensi sumberdaya alam telah dieksploitir secara penuh maka perekonomian berhenti tumbuh. Masyarakat mencapai posisi stasionernya, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Tingkat output konstan
  2. Jumlah penduduk konstan
  3. Pendapatan per kapita juga menjadi konstan
  4. Tingkat upah pada tingkat upah alamiah (minimal)
  5. Tingkat keuntungan pada tingkat yang minimal
  6.     Akumulasi modal berhenti (stok modal konstan)
  7. Tingkat sewa tanah yang maksimal

Namun, adapun kritik terhadap teori Ricardo, antara lain :

  1. Pengabaian pengaruh kemajuan teknologi. Ricardo menjelaskan bahwa kemajuan teknologi di sektor industri akan mengakibatkan penggantian tenaga kerja. Pada awalnya kemajuan teknologi tersebut dapat menahan laju berlakunya the law of diminishing returns, tetapi akhirnya pengaruh kemajuan teknologi tersebut habis dan perekonomian menuju ke arah stasioner. Kenyataannya kenaikan produksi pertanian yang sangat pesat di negara-negara maju telah membuktikan bahwa Ricardo kurang memperhatikan potensi kemajuan teknologi dalam menahan laju berlakunya the law of diminishing returns dari faktor produksi tanah.
  2. Pengertian yang salah tentang keadaan stasioner. Pandangan Ricardo bahwa negara akan mencapai keadaan stasioner secara otomatis adalah tidak beralasan, karena tidak ada perekonomian yang mencapai keadaan stasioner dengan laba yang meningkat, produksi yang meningkat, dan akumulasi modal yang terjadi.
  3. Pengabaian faktor-faktor kelembagaan. Salah satu kelemahan pokok dari teori Ricardo ini adalah pengabaian peranan faktor-faktor kelembagaan. Faktor ini diasumsikan secara tertentu, meskipun demikian, faktor tersebut penting sekali dalam pembangunan ekonomi dan tidak dapat diabaikan.
  4. Teori Ricardo bukan teori pertumbuhan. Menurut Schumpeter, teori Ricardo bukanlah teori pertumbuhan ekonomi, tetapi teori distribusi yang menentukan besarnya pangsa tenaga kerja, tuan tanah, dan pemilik modal. Bahkan dia menganggap bahwa pangsa untuk tanah adalah sangat utama, dan sisanya sebagai pangsa tenaga kerja dan modal. Ricardo gagal menunjukkan teori distribusi fungsional karena ia tidak menentukan pangsa dari masing-masing faktor produksi secara terpisah.
  5. Pengabaian suku bunga. Kelemahan lain dari teori Ricardo ini adalah pengabaian suku bunga dalam pertumbuhan ekonomi. Dia menganggap bahwa suku bunga sebagai imbalan jasa yang terpisah dari modal tetapi termasuk dalam laba. Pendapat yang salah ini berasal dari ketidakmampuannya untuk membedakan pemilik modal dari pengusaha (entrepreneur).

3    Model Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik Lewis

Dalam model Lewis pertumbuhan ekonomi terjadi karena membesarnya sektor industri yang terus mengumpulkan kapital berdampingan dengan sektor pertanian subsisten yang hampir tidak mengumpulkan kapital sama sekali. Sumber pengumpulan kapital di sektor industri modern adalah keuntungan dari upah yang rendah sedangkan upah rendah ini berasal dari suplai surplus tenaga kerja di sektor pertanian yang terbatas.

Para kapitalis di perkotaan mendapatkan tenaga kerjanya dengan menarik para pekerja dari sektor pertanian yang bermigrasi ke daerah perkotaan. Migrasi ini disebabkan upah di perkotaan yang lebih besar daripad upah pertanian di pedesaan. Sir W. Arthur Lewis mengembangkan hal tersebut dalam menjelaskan perpindahan tenaga kerja dari pertanian ke industri di negara-negara industri baru. Kontras dengan para penulis ekonomi sejak awal tahun 1970-an yang telah memperhatiak urbanisasi yang berlebihan, Lewis, menulis pada tahun 1954, memperhatikan tentang kemungkinan kelangkaan tenaga kerja di sektor industri yang sedang berekspansi.

Lewis percaya, adanya produktivitas marginal tenaga kerja yang bernilai nol di sektor pertanian subsisten, sektor yang hampir tidak menggunakan kapital dan kemajuan teknologi. Signifikasi dari model Lewis adalah bahwa pertumbuhan terjadi sebagai hasil dari perubahan struktural. Sebuah perekonomian yang terdiri, utamanya, dari sektor pertanian yang subsisten (yang tidak melakukan tabungan) ditransformasi ke sektor kapitalis modern (yang melakukan kegiatan menabung). Dengan tumbuhnya sektor kapitalis (relatif terhadap sektor pertanian), rasio keuntungan dan surplus yang lain terhadap pendapatan nasional akan tumbuh.

Sayangnya, teori pertumbuhan ekonomi Lewis ini mendapat beberapa kritikan, terutama pada dasar teoritis dari model Lewis, yaitu asumsi atas adanya suplai tenaga kerja yang tak terbatas. Para pengkritik tersebut mengajukan kemungkinan bahwa tingkat upah kapitalis bisa saja meningkat sebelum semua surplus tenaga kerja di sektor pertanian berhasil diserap. Sebabnya adalah :

  1. Dengan berpindahnya para pekerja dengan produktivitas marginal nol dari sektor pertanian yang subsisten, para pekerja yang tetap tinggal di sektor pertanian kemudian akan membagi output (yang konstan jumlahnya) yang ada di antara penduduk yang tinggal sedikit, sehingga output pertanian per kepala menjadi semakin besar dan menyebabkan tingkat hidup mereka naik. Dengan naiknya tingkat hidup mereka, maka tingkat upah juga menjadi lebih tinggi. Maka kemudian sektor industri di perkotaan ingin menarik tenaga kerja dari sektor pertanian ini, mereka harus menaikkan upah yang ditawarkannya.
  2. Semakin banyak tenaga kerja yang berpindah ke sektor industri, permintaan terhadap makanan menjadi semakin tinggi, dan ini akan meningkatkan harga bahan makanan. Maka sektor industri harus menaikkan upah untuk menghadapi peningkatan harga bahan makanan ini.

Maka dari itu, Lewis dianggap berlebihan jika menduga bahwa ketersediaan tenaga kerja migrasi dari pedesaan yang murah bisa menstimulasi pertumbuhan industri.

4    Model Pertumbuhan Ekonomi Harrord-Domar

Model  pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar dibangun berdasarkan pengalaman Negara maju. Harrod-Domar memberikan peranan kunci kepada investasi di dalam proses pertumbuhan ekonomi, khususnya mengenai watak ganda yg dimiliki investasi. Pertama ia menciptakan pendapatan dan kedua ia memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal. Yang pertama dapat disebut sebagai “dampak permintaan” dan yang kedua “dampak penawaran” investasi. Model yang dibuat oleh Harrod dan Domar didasarkan pada asumsi sebagai berikut :

  1. Ada ekuilibrium awal pendapatan dalam keadaan pekerjaan penuh.
  2. Tidak ada campur tangan pemerintah.
  3. Model ini bekerja pada perekonomian tertutup tanpa perdagangan luar negeri.
  4. Tidak ada kesulitan didalam penyesuaian antara investasi dan penciptaan kapasitas produktif.
  5. Kecenderungan menabung rata-rata sama dengan kecenderungan menabung marginal.
  6. Kecenderungan menabung marginal tetap konstan.
  7. Koefisien modal, yaitu rasio stok modal terhadap pendapatan, diasumsikan tetap (fixed).
  8. Tidak ada penyusutan barang modal yang diasumsikan memiliki daya  pakai seumur hidup.
  9. Tabungan dan investasi berkaitan dengan pendapatan tahun yang sama.
  10. Tingkat harga umum konstan, yaitu upah uang sama dengan pendapatan nyata.
  11. Tidak ada perubahan tingkat sukubunga.
  12. Ada proporsi yang tetap antara modal dan buruh dalam proses produksi.
  13. Modal tetap dan modal lancar disatukan menjadi modal.

Didalam perekonomian itu hanya terdapat satu jenis produk. Kesemua asumsi ini tidak penting bagi kesimpulan akhir permasalahannya, namun dimaksudkan untuk menyederhanakan analisanya.

MODEL DOMAR

            Domar membangun modelnya disekitar pertanyaan berikut: karena investasi disatu pihak menghasilkan pendapatan dan dipihak lain menaikkan kapasitas produktif, maka pada laju berapakah investasi harus meningkat agar kenaikan pendapatan sama dengan kenaikan didalam kapasitas produktif, sehingga pekerjaan penuh dapat dipertahankan?

Ia menjawab pertanyaan ini dengan mempererat kaitan antara penawaran agragat dengan permintaan agregat melalui investasi.

MODEL HARROD

Prof. R.F. Harrod mencoba menunjukkan dalam modelnya bagaimana pertumbuhan mantap (yaitu ekuilibrium) dapat terjadi dalam perekonomian. Sekali laju pertumbuhan mantap itu terganggu dan perekonomian jatuh ke dalam dis-ekuilibrium, kekuatan-kekuatan kumulatif cenderung mengabaikan perbedaan tersebutyang selanjutnya akan membawanya ke deflasi jangka panjang atau inflasi jangka panjang.

            Model Harrod didasarkan pada 3 macam laju pertumbuhan. Pertama, laju pertumbuhan actual, dinyatakan dengan G, yang ditentukan oleh rasio tabungan dan rasio modal-output. Laju ini menunjukkan variasi siklis jangka pendek dalam laju pertumbuhan. Kedua, laju pertumbuhan terjamin, yang dinyatakan dengan GW, yang merupakan laju pertumbhuhan pendapatan kapasitas penuh suatu perekonomian. Terakhir, laju pertumbuhan alamiah (natural growth rate), dinyatakan dengan Gn, yang oleh Harrod dianggap sebagai “optimum kesejahteraan”. Ia dapat juga disebut sebagai laju pertumbuhan potensial atau laju pertumbuhan pekerjaan penuh.

Namun demikian ada beberapa perbedaan penting dalam kedua model tersebut :

  1. Domar menganggap investasi memegang peranan kunci didalam proses pertumbuhan dan memberikan tekanan pada cirri gandanya. Tetapi Harrod menganggap tingkat pendapatan sebagai faktor paling penting didalam proses pertumbuhan tersebut. Sementara menjalin hubungan antara penawaran dan permintaan investasi, Harrod, di pihak lain, menyamakan permintaan dan penawaran tabungan.
  2. Model Domar hanya didasarkan pada satu laju pertumbuhan. Tetapi Harrod menggunakan tiga laju pertumbuhan yang berbeda-beda: laju actual (G), laju terjamin (Gw) dan laju natural (Gn).
  3. Domar mempergunakan kebalikan dari rasio modal-output marginal, sedang Harrod menggunakan rasio modal-output marginal.
  4. Domar menggunakan-multiplikator (pengali) tetapi Harrod menggunakan akselerator (pemacu) yang dalam hal ini tidak dibicarakan oleh Domar.
  5. Identitas formal dari persamaan Gw dalam Harrod dari persamaan Domar dipertahankan oleh asumsi Domar bahwa . Tetapi Harrod tidak membuat asumsi seperti itu.
  6. Bagi Harrod siklus bisnis merupakan bagian integral lintasan pembangunan dan bagi Domar tidak demikian halnya tetapi diakomodasikan didalam modelnya dengan membiarkan produktivitas rata-rata investasi berfluktuasi.
  7. Sementara Domar menunjukkan hubungan teknologis antara akumulasi modal dan pertumbuhan kapasitas penuh dalam output berikutnya, Harrod sebagai tambahan memperlihatkan hubungan perilaku antara kenaikan permintaan dengan output saat ini disatu pihak dan dengan akumulasi modal dipihak lain.

Sebagian dari kesimpulan yang dapat ditarik tergantung pada asumsi-asumsi pokok yang dibuat Harrod dan Domar, yang menyebabkan model-model ini menjadi tidak realistik.

  1. Kecenderungan menabung dan rasio modal-output adalah tidak konstan. Kecenderungan untuk menabung dan rasio modal-output diasumsikan konstan. Keduanya mungkin berubah dalam jangka panjang, dan berarti memodifikasikan persyarat-persyarat pertumbuhan mantap. Laju pertumbuhan mantap, bahkan dapatdipertahankan tanpa asumsi ini. Sebagaimana ditulis Domar sendiri, “Asumsi ini tidak begitu perlu dan keseluruhan persoalan dapat dengan mudah dikerjakan kembali.”
  2. Buruh dan modal tak dapat dipergunakan dalam proporsi tetap. Asumsi bahwa buruh dan modal dipergunakan dalam proporsi yang tetap tidaklah dapat dipertahankan. Pada umumnya buruh dapat menggantikan modal dan perekonomian dapat bergerak lebih mulus kearah lintasan pertumbuhan mantap.
  3. Harga tidak akan tetap konstan. Kedua model tersebut juga luput mempertimbangkan perubahan-perubahan dalam tingkat harga pada umumnya. Perubahan harga selalu terjadi disetiap waktu dan sebaliknya dapat menstabilkan situasi yang tidak stabil.
  4. Tingkat sukubunga berubah. Asumsi bahwa tidak ada perubahan dalam tingkat sukubunga tidaklah relevan dengan analisa yang bersangkutan. Tingkat sukubunga dapat berubah dan mempengaruhi investasi.
  5. Program pemerintah tak dapat diabaikan. Model-model Harrod dan Domar mengabaikan pengaruh program pemerintah pada pertumbuhan ekonomi.
  6. Perilaku wiraswasta tak dapat diabaikan. Modem ini juga mengabaikan perilaku wiraswasta yang sebenarnya menentukan laju pertumbuhan terjamin tersebut dalam perekonomian.
  7. Kegagalan membedakan barang modal dengan barang konsumen. Model Harrod –Domar dikritik karena kegagalan menarik perbedaan antara barang modal dan barang konsumsi.
  8. Menurut Profesor Rose, sumber utama ketidakstabilan dalam system Harrod terletak pada akibat akses permintaan atau penawaran dalam keputusan produksi dan tidak pada akibat langkanya modal atau berlebihnya keputusan investasi.

5    Model Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik Solow-Swan

Dalam model pertumbuhan ini yang menjadi perintis adalah Robert Solow dan Trevor Swan. Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi dan tingkat kemajuan teknologi. Berdasarkan penelitiannya, Solow (1957) mengatakan bahwa peran dari kemajuan teknologi di dalam pertumbuhan ekonomi sangat tinggi.

Pandangan teori ini didasarkan kepada angapan yang mendasari analisis klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment)dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain, sampai dimana perekonomian akan berkembang tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi.

Selanjutnya, menurut teori ini, rasio modal-output (capital-output ratio = cor) bisa berubah (bersifat dinamis). Dengan kata lain, untuk mencipakan sejumlah output tertentu bisa digunakan jumlah modal yang berbeda-beda dengan bantuan tenaga kerja yang jumlahnya berbeda-beda pula sesuai dengan yang dibutuhkan. Jika lebih banyak modal yang digunakan lebih sedikit, maka lebih banyak tenaga kerja yang digunakan. Begitu pula sebaliknya. Dengan adanya “keluwesan” (fleksibelitas) ini suatu perekonomian mempunyai kebebasan yang tak terbatas dalam menentukan kombinasi modal dan tenaga kerja yang akan digunakan untuk menghasilkan tingkat output tertentu. Solow membangun modelnya disekitar asumsi berikut:

  1. Ada satu komoditi gabungan yang diproduksi.
  2. Yang dimaksud output netto, yaitu sesudah dikurangi biaya penyusutan modal.
  3. Return to scale bersifat konstan. Dengan kata lain, fungsi produk adalah homogen pada derajat pertama.
  4. Dua faktor produksi buruh dan modal, dibayar sesuai dengan produktivitas fisik marginal mereka.
  5. Harga dan upah fleksibel.
  6. Buruh terpekerjakan secara penuh.
  7. Stok modal yang ada juga terpekerjakan secara penuh.
  8. Buruh dan modal dapat disubtitusikan satu sama lain.
  9. Kemajuan teknik bersifat netral.

Dengan asumsi tersebut, Solow menunjukkan dalam modelnya bahwa dengan koefisien teknik bersifat variable, rasio modal-buruh akan cenderung menyesuaikan dirinya, dalam perjalanan waktu, kearah rasio keseimbangan.

Solow adalah seorang perintis dalam membangun suatu model neo-klasik dengan menggunakan ciri-ciri utama model Harrod Domar seperti modal homogen, fungsi tabungan proporsional yang terkenal sebagai fungsi produksi neo-klasik, di dalam menelaah proses pertumbuhan. Asumsi tentang dapat dipertukarkannya buruh dan modal member kemungkinan kepada proses pertumbuhan untuk menyesuaikan diri dan memberikan suatu suasana realisme. Tidak seperti model Harrod-Domar, ia menunjukkan apa yang disebut arah pertumbuhan keadaan mantap. Tak kalah pentingnya, situasi pertumbuhan jangka panjang ditentukan oleh perluasan tenaga buruh dan kemajuan teknikal yang semakin meluas. Jadi, professor Solow berhasil menyingkirkan semua kesulitan dan kekakuan yang dihadapi analisa pendapatan aliran Keynesian modern.

Lepas dari penegasan Solow ini, modelnya mengandung kelemahan pada beberapa hal, sebagaimana ditunjukkan oleh Profesor Sen:

  1. Model Solow hanya membicarakan masalah keseimbangan antara Gw dan Gn yang diajukan Harrod, dan mengabaikan masalah keseimbangan antara G dan Gw.
  2. Didalam model Solow tidak terdapat fungsi investasi dan sekali fungsi ini dimasukkan masalah ketidakstabilan yang muncul pada model Harrod akan muncul juga dalam model Solow itu.
  3. Model Solow tersebut didasarkan pada asumsi tentang kemajuan teknis yang memperbesar buruh. Akan tetapi justru sifat khusus kemajuan teknik yang menurut Harrod bersifat netral.
  4. Solow mengansumsikan fleksibilitas harga factor yang mungkin mempersulit perjalanan menuju pertumbuhan mantap.
  5. Model Solow tersebut didasarkan pada asumsi tidak realistis tentang modal yang homogeny dan dapat diubah-ubah.
  6. Solow merupakan kemajuan teknologi sebagai faktor penentu dan menganggap hal itu sebagai faktor eksogen didalam proses pertumbuhn. Ia dengan demikian tidak memperdulikan soal merangsang kemajuan teknologi melalui proses belajar, investasi dalam penelitian, dan akumulasi modal.

Teori pertumbuhan Neo Klasik ini mempunyai banyak variasi, tetapi pada umumnya mereka didasarkan kepada fungsi produksi yang telah dikembangkan oleh Charles Cobb dan Paul Douglas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta : Aditya Media.
  2. Hakim, Abdul. 2002. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta : Ekonisia.
  3. Jhingan, M.L.. 2004. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s