Ketika Fakta Beradu Dengan Teori

(Mungkin) Sedikit Penjelasan Tentang Kenaikan BBM

            

          Sebagai anak muda dan generasi bangsa Indonesia yang peduli terhadap perekonomian bangsa, saya turut prihatin dengan banyaknya isu-isu maupun kebijakan-kebijakan yang semakin lama dianggap merugikan rakyat kecil. Nah, apakah semuanya benar ? Mari kita telaah bersama dengan bahasa yang ringan namun tepat pada sasaran.

Seperti yang kita ketahui bersama, banyaknya informasi atau berita-berita yang kini berada di tengah masyarakat mengakibatkan keresahan yang bisa dibilang cukup berlebihan. Terlalu bebasnya pemberitaan oleh pihak pers baik media cetak, televisi, maupun online, tanpa “saringan” menyebabkan banyaknya isu-isu yang meresahkan masyarakat. Memang, masyarakat harus tau segala hal yang terjadi di negara kita, tapi taukah anda, tidak semua masyarakat Indonesia menerima secara positif berita-berita yang dilancarkan oleh awak media. Misalnya, pada saat isu kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) disebarluaskan di masyarakat, pada awalnya memang masyarakat mulai resah dan berpikir bagaimana nantinya mereka dapat berkendara dengan biaya seminim-minimnya. Belum adanya kepastian apakah BBM jadi dinaikkan atau tidak pada saat itu menyebabkan semakin tingginya keresahan masyarakat, ditambah pula dengan banyaknya debat-debat yang membuat masyarakat semakin bingung dengan keputusan yang akan diambil. Simpang siur informasi inilah yang membuat masyarakat mulai melakukan demo-demo dan menyebarkan desas-desus negatif terhadap pemerintah.

        Kita sebagai masyarakat muda atau generasi muda yang memiliki pendidikan yang layak seharusnya tidak ikut terpancing dengan masalah ini, malah seharusnya sebagai generasi yang berpendidikan, kita seharusnya berusaha menjelaskan kondisi ini secara ilmiah. Sebagai seseorang yang sedang menempuh pendidikan di jurusan ekonomi, saya melihat banyak asumsi yang mungkin dipikirkan oleh pemerintah, namun sayang akibat pemberitaan dan informasi yang simpang siur mengakibatkan masyarakat sudah meragukan keputusan pemerintah itu sendiri. Mungkin keresahan ini bukannya tidak beralasan. Bagi masyarakat miskin kenaikan BBM itu berarti hidup akan menjadi lebih susah, misalnya seseorang yang bekerja menjadi tukang ojek atau kendaraan umum, saya ambil lingkup sempit, di Bali, kendaraan umum untuk sekali  berangkat dihargai sebesar Rp 5.000,00 sedangkan ojek untuk jarak 2 km dihargai berkisar Rp 3.000,00, hingga saat ini penumpang kendaraan umum pun tidak terlalu banyak. Jika kita berpikir dari sudut pandang mereka, kenaikan BBM berarti hidup akan menjadi sulit, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sudah sangat sulitm bagaimana untuk memenuhi pendidikan anak-anak mereka. Wajar kalau masyarakat menengah ke bawah ini merasa resah. Sangat resah. Sedangkan bagi masyarakat menengah hingga menengah ke atas, hanya berpikir ini berarti akan ada pengeluaran tambahan untuk berpergian dengan kendaraan pribadi. Sekarang tergantung berapa pada akhirnya BBM dinaikkan, apakah kenaikannya hanya berkisar 50% atau 100%.

        Bagaikan gempa, kenaikan BBM ini akan sangat terasa bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Goncangan hidup akan sangat terasa bagi mereka-mereka yang hidup pada garis ini. Yang dapat mereka lakukan hanyalah bekerja sekuat mungkin untuk bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Jika anda menjadi pemerintah, jalan apa yang harus anda ambil ? Menaikkan BBM atau menetapkan BBM ? Mari Kita telaah asumsi apa saja yang mungkin diambil oleh pemerintah. Subsidi BBM yang dilakukan Indonesia saat ini bisa dianggap sangat tidak tepat sasaran, saya pun sebagai mahasiswi yang mungkin memiliki kecukupan dana untuk membeli salah satu jenis BBM yang seharga Rp 9.000,00 ke atas tentu akan memilih jenis BBM yang lebih murah, dan kebetulan jenis BBM itulah yang mendapat subsidi. Tidak hanya saya, hampir semua orang di negara ini akan berpikiran yang sama. Informasi terakhir subsidi BBM menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan sekitar 18 Triliun rupiah dari APBN untuk melakukan subsidi ini. Apabila subsidi ini dicabut namun dipindahkan ke bidang lainnya entah pendidikan maupun bidang kesehatan atau pemerataan pembangunan, tentu tidak akan menjadi masalah. Sayangnya, hingga saat ini kita juga belum mengetahui kemanakah subsidi ini dialihkan. Tidak hanya itu, mungkin adanya asumsi salah satu perusahaan BBM mengalami kerugian, walaupun perusahaan tersebut adalah perusahaan monopoli yang seharusnya dapat beroperasi di atas titi laba normal atau keuntungan yang lebih dari seharusnya, sayangnya perusahaan ini di Indonesia malah harus menanggung kerugian yang cukup besar.

Asumsi-asumsi itu lah yang mengakibatkan negara mungkin berpikir untuk menghilangkan subsidi. Tidak hanya itu, mungkin juga pemerintah ingin mengurangi volume kendaraan yang ada di Indonesia, dengan adanya kenaikan BBM masyarakat akan berpikir berkali-kali untuk naik kendaraan pribadi, apabila kondisi ini terjadi, kendaraan umum pun dapat berfungsi dengan optimal, dengan catatan biaya menaiki kendaraan umum tidak sama besarnya dengan menaiki kendaraan pribadi, selain itu harus ada peningkatan fasilitas umum, baik kendaraan umumnya, maupun halte-halte yang bisa memberikan informasi jalur kendaraan umum. Jika volume kendaraan berkurang, tentu jalanan lebih lenggang, dan kemacetan dapat diatasi, namun untuk hal ini perlu adanya aturan-aturan kecepatan sehingga tidak akan terjadi kondisi pengemudi kendaraan umum yang ugal-ugalan.

         Asumsi lainnya mungkin pemerintah ingin masyarakatnya lebih semangat bekerja, dengan tingginya harga BBM, tentu akan menaikkan harga-harga barang lainnya seperti harga-harga kebutuhan pokok, seperti beras, gas, dan yang lainnya. Akibat kesulitan tersebut, tentu masyarakat Indonesia akan dipaksa untuk menjadi lebih kreatif dalam menciptakan lapangan-lapangan kerja. Namun, hal ini biasanya akan mengakibatkan tingkat kriminalitas meningkat, apabila pemerintah tidak sigap dengan hal ini tidak menutup kemungkinna akan terjadi kondisi kesenjangan sosial yang tinggi. Menurut saya, hal yang mungkin bisa diambil pemerintah adalah memberikan subsidi yang seimbang dengan kenaikan BBM, misalkan, BBM akan dinaikkan 100% paling tidak pemerintah memberikan subsidi sebanyak 50% pada kebutuhan pokok masyarakat, dan perlahan menaikkan tingkat UMR (Upah Minimum Regional). Jangan sampai, kondisi hilangnya subsidi ini adalah untuk memberikan kenyamanan yang berlebihan untuk para dewan legislatif maupun eksekutif.

Jadi, sebenarnya kenaikan BBM jika dijalankan dengan pemikiran yang positif tentu akan menghasilkan positif pula. Semoga penjelasan di atas dapat mengurangi keresahan yang dialami masyarakat Indonesia.

2 responses

  1. Adanya banyak pemikiran kontra tentang kenaikan bbm mengindikasikan begitu kuatnya arus non-government di indonesia. Entah karena memang ada kepentingan segelintir kelompok untuk menguasai pemerintahan atau mereka juga merasakan nasib yang akan ‘menimpa’ mereka ketika harga bbm dinaikkan. jika kita berfikir pada poin kedua, sepertinya memang ada yang tidak beres di pemerintahan🙂 kira – kira, bisa ga alokasi dana dari beberapa sektor dikurangi untuk menutupi alokasi dana bbm sehingga tidak perlu dinaikkan? yah, dana semacam pendidikan, kesehatan, kesejahteraan masyarakat tidak perlu diutak – atik. Dana studi banding anggota dewan misalnya, mungkin bisa dialihkan untuk menutupi alokasi dana bbm?😀

    tulisan yang kritis wid, wid pasti bisa menjadi ‘seseorang’ yang mengubah kondisi Indonesia sekarang dari segi ekonomi :)) sukses!

    27 Maret 2012 pukul 14:11

  2. terima kasih atas komentar yang membangun ini. semoga nantinya tulisan saya bisa memberikan perubahan berarti pada ekonomi Indonesia.

    7 Juni 2012 pukul 10:51

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s