Ketika Fakta Beradu Dengan Teori

essay

Electronic Money (e-Money) Sebagai Output Redenominasi dan Alat Pengendali Kebijakan Moneter di Indonesia

Oleh : Dewa Ayu Widyastiti Sravishta

redenominasi1 (istimewa)Isu redenominasi di Indonesia sejak tahun 2010 lalu terus berkembang dan beredar di masyarakat. Redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut, misal Rp 1.000,00 menjadi Rp 1,00 (redenominasirupiah.com ; diakses pada tanggal 29 Maret 2013). Redenominasi memiliki perbedaan dengan sanering, dimana sanering merupakan kondisi dimana nilai uang yang beredar di masyarakat di potong, sehingga daya beli masyarakat juga ikut berkurang (redenominasirupiah.com ; diakses pada tanggal 29 Maret 2013). Penyederhanaan nilai rupiah di Indonesia diharapkan memberikan efisiensi pada pencatatan pada laporan keuangan serta terciptanya kesetaraan dalam penyebutan uang rupiah dengan negara lain yang akhirnya akan meningkatkan kredibilitas mata uang rupiah (tribunnews.com ; Januri 2013).

darmin-nasution (istimewa)Menurut Darmin Nasution dalam Kompas.com (2010), terdapat tiga alasan dalam melaksanakan redemominasi, pertama kondisi ekonomi stabil dan terus bertumbuh, alasan kedua yaitu efisiensi dan penyederhanaan pembukuan, dan yang ketiga adalah memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam menggunakan dan membawa uang rupiah dalam jumlah besar. Namun, ketiga alasan itu saja belum cukup untuk memperlancar rencana redenominasi. Menurut Tony Prasetiantono dalam Kompas.com (2013), terdapat empat persoalan dalam melaksanakan redenominasi tersebut, pertama, sosialisasi redenominasi harus dilakukan secara luas dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Kedua, masalah redenominasi ini harus didukung oleh seluruh pemangku kepentingan yang ada di Indonesia agar kebijakan redenominasi ini dapat berjalan dengan efektif. Ketiga, redenominasi rawan inflasi. Keempat, redenominasi dapat dijalankan tergantung pada kredibilitas dan kinerja perekonomian Indonesia. (lebih…)


(Mungkin) Sedikit Penjelasan Tentang Kenaikan BBM

            

          Sebagai anak muda dan generasi bangsa Indonesia yang peduli terhadap perekonomian bangsa, saya turut prihatin dengan banyaknya isu-isu maupun kebijakan-kebijakan yang semakin lama dianggap merugikan rakyat kecil. Nah, apakah semuanya benar ? Mari kita telaah bersama dengan bahasa yang ringan namun tepat pada sasaran.

Seperti yang kita ketahui bersama, banyaknya informasi atau berita-berita yang kini berada di tengah masyarakat mengakibatkan keresahan yang bisa dibilang cukup berlebihan. Terlalu bebasnya pemberitaan oleh pihak pers baik media cetak, televisi, maupun online, tanpa “saringan” menyebabkan banyaknya isu-isu yang meresahkan masyarakat. Memang, masyarakat harus tau segala hal yang terjadi di negara kita, tapi taukah anda, tidak semua masyarakat Indonesia menerima secara positif berita-berita yang dilancarkan oleh awak media. Misalnya, pada saat isu kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) disebarluaskan di masyarakat, pada awalnya memang masyarakat mulai resah dan berpikir bagaimana nantinya mereka dapat berkendara dengan biaya seminim-minimnya. Belum adanya kepastian apakah BBM jadi dinaikkan atau tidak pada saat itu menyebabkan semakin tingginya keresahan masyarakat, ditambah pula dengan banyaknya debat-debat yang membuat masyarakat semakin bingung dengan keputusan yang akan diambil. Simpang siur informasi inilah yang membuat masyarakat mulai melakukan demo-demo dan menyebarkan desas-desus negatif terhadap pemerintah. (lebih…)


Spesialisasi Kerja Untuk Membangun Perekonomian Indonesia

Oleh : Dewa Ayu Widyastiti Sravishta

Indonesia merupakan salah satu negara yang masih pada tahap negara berkembang. Sebagai negara berkembang banyak pihak di Indonesia mencoba untuk memecahkan masalah-masalah perekonomian, baik untuk meningkatkan pertumbuhan negara maupun perbaikan perekonomian itu sendiri. Dalam membangun suatu negara, diperlukan empat unsur utama, yaitu sumber daya manusia (SDA), sumber daya manusia (SDM), modal, dan kewirausahaan.

istimewaDari keempat unsur tersebut, hal yang cukup menarik untuk dibahas adalah mengenai sumber daya manusia dan modal. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam seperti tambang, perkebunan, perikanan, dan lain sebagainya. Selain sumber daya alam, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang sangat banyak, begitu pula dengan modal. Namun, pada kenyataannya keseluruhan sumber yang dimiliki Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara sempurna.

Keterbatasan pemanfaatan sumber daya alam ini adalah akibat masih sangat kurang profesionalnya masyarakat Indonesia dalam mengolah sumber daya alam yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, dalam pengolahan minyak bumi, Indonesia masih membutuhkan tenaga negara lain. Minyak mentah yang berasal dari Indonesia di ekspor ke negara lain yang memiliki alat untuk mengolah minyak mentah tersebut menjadi minyak jadi yang dapat langsung digunakan, seperti premium, solar, dan lain sebagainya. Setelah diolah menjadi minyak jadi, minyak mentah yang awalnya kita ekspor akan kembakli kita impor dalam bentuk minyak jadi, dan tentu saja harga minyak jadi akan lebih mahal dibandingkan saat kita menjual minyak mentah kepada negara lain. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan uang yang seharusnya bisa berputar di dalam negara menjadi berputar di negara lain. Kurangnya keahlian dalam mengolah sumber daya alam membuat kita tetap bergantung pada negara lain. (lebih…)


UMKM : Jalan Keluar Pajak Kita

Oleh : Dewa Ayu Widyastiti Sravishta

Setiap negara pastilah mempunyai anggaran tetap untuk belanja negara tiap tahunnya. Begitu juga dengan negara kita,Indonesia. Di dalam anggaran tersebut banyak sub anggaran yang di serap demi mencukupi pembelanjaan negara. Mulai dari pajak dari dalam negeri hingga pajak di luar negeri. Negara kita telah menyerap banyak triliun dari penerimaan pajak dan non-pajak. Tapi mengapa penyerapan dana dari pajak masih di anggap kurang dan belum mencukupi kebutuhan negara?

Banyaknya pengeluaran negara membuat orang-orang di bagian keuangan negara menjadi berpikir keras untuk mencukupi kebutuhan negara dengan cara menyerap banyak pajak dari berbagai sektor. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Balai Pustaka : 2008).

Penerimaan pajak dari berbagai sektor tersebut satu di antaranya adalah  penerimaan pajak dari dalam negeri. Pajak dari dalam negeri tersebut terdiri dari pajak penghasilan migas dan non migas. Secara mendetailnya Penerimaan non migas terdiri dari yang pertama adalah pajak langsung yaitu pajak yang meliputi pajak pendapatan dan pajak perseroan. Sedangkan yang kedua adalah pajak tidak langsung yang meliputi pajak penjualan, pajak impor, ekspor, cukai, bea masuk, dan sebagainya. Terakhir adalah penerimaan bukan pajak yang berasal dari keuntungan perusahaan negara (BUMN ataupun BUMD), denda atau sita, pencetakan uang, hibah dan sumbangan, dan pinjaman.Dari pajak dalam negeri saja sudah banyak sektor yang membantu pengumpulan dana untuk anggaran pembelanjaan negara. Tapi, tetap saja masih dianggap kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan negara. (lebih…)